Bagaimana meyakinkan orang tua untuk mendukung studi di Jerman?

Salah satu rintangan dalam mencapai impian studi di Jerman adalah sikap orang tua yang kurang/tidak mendukung. Dari sekian banyak kontak email yang saya dapat, ada beberapa yang menanyakan bagaimana meyakinkan orang tua untuk mendukung studi di Jerman. Pertama-tama kamu harus mengerti orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi sikap orang tua yang kurang/tidak mendukung tidak berarti sesuatu yang negatif. Ada beberapa hal yang bisa dibagikan kepada orang tua supaya ada ruang diskusi antara kamu dan orang tua untuk merealisasikan studi di Jerman.

Continue reading

Service untuk Studi di Jerman

Dengan banyaknya permintaan dan pertanyaan yang masuk, mulai tahun ini saya dan istri saya menawarkan pelayanan/service untuk mempermudah persiapan anda studi di Jerman.

Service yang kami tawarkan dibagi menjadi 2 bagian yaitu service persiapan untuk ke Jerman dan yang kedua service saat anda sudah tiba di Jerman. Service yang pertama terbuka untuk semua, sedangkan service yang kedua, karena seperti homestay, pernawarannya sangat terbatas. Kami berusaha menekan biayanya seminimal mungkin, supaya servicenya bisa terjangkau untuk banyak orang.

Untuk lebih lengkapnya, silahkan kunjungi posting nya di blog Studi Jerman:
/service-untuk-studi-di-jerman/

Kami berharap services ini dapat membantu anda.

Salam dari Heidelberg, Jerman

Steve & Theresia

Butuh waktu berapa lama untuk persiapan ke Jerman?

Jawaban untuk pertanyaan ini tergantung dari situasi dan kondisi setiap orang. Saya akan mencoba memaparkan dari beberapa contoh nyata. Harap diperhatikan, kami ke Jerman tanpa bantuan agen. Steve ke Jerman setelah lulus SMU untuk kuliah S1 dan Theresia setelah lulus S1 untuk kuliah S2.

1. Kursus Bahasa
Kami butuh 1 tahun untuk belajar bahasa Jerman dan lulus ZD (atau B1). Kalau kalian sudah berencana untuk kuliah di Jerman saat masih dibangku sekolah/kuliah, lebih baik kalian siapkan waktu untuk kursus bahasa Jerman disela-sela waktu sekolah. Belajar bahasa dengan relax dan lama (mengikuti kelas ekstensif), lebih berhasil daripada saat kita dikejar-kejar waktu dan harus kursus setiap harinya (mengikuti kelas intensif). Kalau kalian baru mendapatkan ide untuk belajar di Jerman setelah lulus sekolah, yah mau ga mau mengikuti kelas intensif atau super intensif supaya bisa cepat dapat ijazah B1, jadi tidak buang waktu.

Continue reading

Kuliah bidang apa di Jerman?

Banyak yang bertanya sebaiknya mereka kuliah apa di Jerman. Atau ada juga yang menanyakan apakah menurut kami kalau kuliah bidang A akan lebih bagus dibandingkan kuliah di bidang B, dsb. Jadi melalui posting-an ini, kami harapkan pertanyaan teman-teman akan terjawab.

Untuk menentukan sebaiknya anda kuliah apa, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi. Saya akan coba memaparkan faktor-faktor tersebut sesuai dengan pengalaman saya dan keluarga saya. Harap diperhatikan, kalau urutan faktor dibawah ini bukan berdasarkan ranking.

Continue reading

Studi di Jerman – Butuh biaya berapa?

Banyak pertanyaan mengenai biaya yang masuk ke kontak kami. Sebagian besar sudah kami paparkan dalam beberapa posting. Disini, saya akan jelaskan lebih detail lagi.

Sebenarnya butuh biaya berapa sih untuk kuliah di Jerman? Kita harus pisahkan biaya kedalam beberapa kategori, yaitu:

1. Biaya persiapan Bahasa Jerman atau Bahasa Inggris

2. Biaya administrasi, kelengkapan dokumen, pengiriman aplikasi, visa, dll

3. Jaminan Keuangan

4. Biaya Keberangkatan dan Ketibaan di Jerman

5. Biaya studi di Jerman

6. Biaya hidup di Jerman

Continue reading

Pengalaman Kuliah Arsitek di Jerman

Ini cerita saya tentang pengalaman kuliah arsitek di Jerman. Sebelumnya saya kuliah di UNPAR (Universitas Parahyangan), Bandung jurusan Arsitektur dan ITB (Institut Teknik Bandung), Bandung jurusan Desain Interior. Setelah lulus, saya langsung bekerja beberapa tahun di beberapa perusahaan swasta, namun entah kenapa saya masih merasa ‘kurang’. Setelah berfikir masak-masak akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah.

Sudah sekitar 4 bulan saya melanjutkan kuliah S2 di SAC (Städelschule Architecture Class),  Frankfurt angkatan 2012, yg terdiri dari 31 mahasiswa. Saya memilih SAC  selain karena tertarik dengan metode pengajarannya, juga karena SAC salah satu universitas yg menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Pekan pertama saya kuliahdi SAC, rasanya sangat menyenangkan. Selain krn mahasiswanya yg beragam (hampir dari seluruh belahan dunia seperti: Jerman, Rusia, Georgia, Yunani, India, Iran, Polandia,dll) SAC juga mencoba menikahkan seni dengan arsitektur.  Kami membuat beberapa karya ‘seni’ dengan menggunakan material seperti tanah liat, sterefoam, dll, yg didampingi oleh profesor seni. Kita diberi kebebasan untuk bekerja di ruangan/ studio masing-masing atau di rumah.

Setelah beberapa minggu, kami diminta presentasi di hadapan profesor arsitek (oiya, di sini sering banget presentasi, tp seru ). Dari beberapa karya, kami diminta memilih 1 karya yg nanti akan dicari pemecahan atau pola berfikirnya secara arsitektur, dan disinilah bagian terberatnya. Setiap mahasiswa diminta berfikir logis – terukur- sistematis serta mandiri (proses itu harus dapat digambarkan dan dijelaskan pada tiap presentasi). Mengingat latar belakang pendidikan serta negara yg berbeda- beda, maka pola pikir yg dihasilkan juga bervariasi. Di SAC, para profesor selalu siap mendampingi dan memberikan masukkan, tp eksekusi tetap ada di tangan kita.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, salah satu pelajaran yg saya dapat selama bersekolah di sini adalah, PROSES berfikir jauh lebih penting, dibandingkan hasil akhir. Karena hasil akhir bisa kita ‘contek’ dari karya orang lain. Tapi proses berfikir merupakan ‘harta karun’ di tiap manusia. Nah di SAC kita berusaha menemukan ‘harta karun’ tersebut.

Theodora
Städelschule Architecture Class
Class of 2012

http://www.staedelschule.de/sac-portfolio/fyg/first-year-research-theodora-janenita/

Suka duka datang ke Jerman – Mencari Tempat Tinggal

Seperti yang saya ceritakan di posting-an sebelumnya, selama beberapa hari saya menumpang di kamar teman saya. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang belum mempunyai teman di Jerman? Ini bukan semuanya pengalaman pribadi saya, tetapi juga kumpulan dari pengalaman teman-teman.

Numpang di rumah atau kamar orang yang belum bisa kita panggil teman, memang akan membuat kita sungkan. Apalagi bagi beberapa orang yang baru pertama kali numpang di rumah orang lain.

Continue reading

Suka duka datang ke Jerman – Pertama kali tiba di Jerman

Tiket pesawat, one way, sudah ditangan, saya siap berangkat ke Jerman. Saya memilih maskapai Malaysia Airlines karena mereka memberikan bagasi 35 kg bagi warna negara Indonesia. Akhir Juni 2003, saya tiba di Jerman, disambut oleh musim panas yang sangat panas. Itu tidak masalah bagi saya, karena Jakarta jauh lebih panas :)

Itulah pertama kalinya saya menginjakan diri di negara orang. Penerbangan selama kurang lebih 16 jam cukup melelahkan bagi saya, tetapi tiba di Jerman menghapus kelelahan saya. Semuanya serba baru dan sangat menarik bagi saya. Bandara international Frankfurt merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Bandaranya sangat besar dan bersih. Saya tiba sekitar pukul 6 pagi waktu setempat, tetapi saya tidak merasakan itu karena jam 6 pagi, di waktu summer, sama seperti jam 8 pagi di Jakarta, ditambah lagi lampu-lampu di dalam bandara yang terang-benderang.

Sekali lagi, bandara Frankfurt sangat besar. Entah karena saya nervous atau kecapean, hampir saya tersesat. Saya ikuti saja kemana orang-orang ramai berjalan. Setelah melewati pengecekan imigrasi, pengambilan bagasi, saya pun keluar dari pintu bandara. Saya tidak melihat batang hidung teman-teman yang janjinya ingin menjemput saya. Was-was juga karena saya tidak tahu bagaimana caranya dari Frankfurt ke Darmstadt. Ternyata teman-teman ngumpet dibalik kursi. Hahaha… saya selalu tertawa kalau ingat kejadian itu.

Continue reading

Suka duka datang ke Jerman – Mencari Universitas yang tepat & Pengiriman Aplikasi

Di hari terakhir tahun 2012 ini, saya teringat akan suka duka saat mengurus keberangkatan ke Jerman, saat tiba di Jerman, dan hari-hari pertama tiba di Jerman. Seri posting saya kali ini akan ‘menapak tilas’ ke 10 tahun yang lalu.

Sekitar 1 tahun sebelum saya berangkat ke Jerman, saya sibuk dengan les Bahasa Jerman di Goethe Institute, Bandung. Karena saya ingin sekali berangkat ke Jerman secepat mungkin, saya ambil kelas semi intensif. Dari sisi biaya, kelas itu juga masuk dalam budget saya yang terus terang, tidak banyak. Diwaktu yang sama, saya juga sudah memulai mencari bidang studi dan universitas yang tepat yang sesuai dengan keinginan dan kondisi saya. Saya banyak luangkan waktu di Internet Cafe untuk mencari semua informasi. Sayangnya, hanya sedikit informasi yang tersedia dalam Bahasa Inggris, sebagian besar dalam Bahasa Jerman. Dengan kemampuan Bahasa Jerman saya yang ala kadarnya, bantuan dari guru les, dan juga penerjemah di internet, tetap saja saya merasa tidak cukup. Istilah keren nya, “saya tidak tahu apa yang saya tidak mengerti”.

Continue reading