Bagaimana meyakinkan orang tua untuk mendukung studi di Jerman?

Salah satu rintangan dalam mencapai impian studi di Jerman adalah sikap orang tua yang kurang/tidak mendukung. Dari sekian banyak kontak email yang saya dapat, ada beberapa yang menanyakan bagaimana meyakinkan orang tua untuk mendukung studi di Jerman. Pertama-tama kamu harus mengerti orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi sikap orang tua yang kurang/tidak mendukung tidak berarti sesuatu yang negatif. Ada beberapa hal yang bisa dibagikan kepada orang tua supaya ada ruang diskusi antara kamu dan orang tua untuk merealisasikan studi di Jerman.

Pertama-tama kamu harus mengerti mengapa atau hal-hal apa saja yang membuat orang tua kurang/tidak mendukung kamu untuk studi di Jerman. Setelah itu ada beberapa hal yang bisa dibagikan kepada orang tua, supaya mereka lebih terbuka untuk perihal kamu studi di Jerman.

Mengapa orang tua kurang/tidak setuju dengan rencana kamu studi di Jerman?

1. Tanyakan langsung kepada orang tua
Paling mudah untuk menjawab pertanyaan di atas adalah dengan menanyakan langsung kepada orang tua. Hal-hal apa saja yang menjadi beban bagi mereka untuk mengirim kamu studi di Jerman. Untuk ini baiknya, kamu memilih waktu yang tepat jangan sewaktu orang tua sedang sibuk atau stress. Tanyakan baik-baik, tanpa membantah langsung alasan-alasan mereka.

2. Belum ada pengalaman di luar negeri
Terutama bagi orang tua yang tidak ada pengalaman di luar negeri (baik untuk jalan-jalan, bekerja, dan studi), akan lebih susah untuk membayangkan anaknya studi di luar negeri. Mereka takut kalo terjadi apa-apa dengan anaknya di luar negeri, siapa yang bisa bantu, kan namanya juga di negeri orang. Sedangkan orang tua yang pernah bekerja dan studi di luar negeri, biasanya mereka lebih terbuka untuk mendukung kamu studi di luar negeri juga.

3. Takut anaknya tidak pulang lagi ke Indonesia
Orang tua selalu ingin dekat dengan anaknya, bahkan kalo anaknya nanti sudah bekerja dan berkeluarga. Dengan mengirim anaknya ke luar negeri ada kemungkinan anaknya mendapat pekerjaan di luar negeri (atau mungkin juga mendapat pasangan orang bule) dan menetap di luar negeri.

4. Takut anaknya kesulitan dalam studi dan hidup di luar negeri
Memang kehidupan di luar negeri jauh berbeda dengan di Indonesia. Buat orang tua sangat sulit membayangkan anaknya harus berkomunikasi bahasa asing dan tidak ada keluarga/teman yang bisa membantu, lalu hanya dikelilingi dengan lingkungan orang asing. Bagaimana nanti kalo anaknya sakit? Bagaimana kalo ada anaknya tidak mendapatkan tempat tinggal? Dan lain-lain.

5. Takut biaya studi dan hidup di luar negeri yang sangat mahal
Orang tua yang mendukung anaknya studi di luar negeri, pastinya juga ingin sebisa mungkin mendukung secara biaya. Tetapi tidak semua orang tua mampu membiayai anaknya untuk studi di luar negeri. Seandainya mereka mampu, mereka juga mungkin  memikirkan bagaimana kalo tiba-tiba mereka tidak bisa mengirim uang lagi, karena ada keperluan keluarga lainnnya.

Sekarang bagaimana caranya untuk meyakinkan orang tua supaya mendukung kamu untuk studi di Jerman.

1. Perkenalkan Jerman ke orang tua kamu
Ada banyak cara memperkenalkan Jerman ke orang tua kamu baik secara langsung atau tidak langsung. Contohnya kalo orang tua kamu senang dengan mobil, kamu bisa sering kali menyinggung mobil Jerman (BMW, Mercedes Benz, Audi) yang terkenal dan juga menyinggung bagaimana orang Jerman menjadi negara industri mobil. Contohnya cerita Bertha Benz istri dari Karl Benz yang sangat yakin akan penemuan mobil suaminya. Waktu itu orang-orang menertawakan impian Karl Benz yaitu menciptakan mobil atau dulu dikenal sebagai kereta kuda tanpa kuda. Tanpa sepengtahuan suaminya, ia mengendarai mobil pertama ciptaan suaminya untuk pertama kalinya sejauh 106 km. Cerita lengkapnya bisa dibaca di http://en.wikipedia.org/wiki/Bertha_Benz.

Cara kedua memperkenalkan Jerman ke orang tua kamu adalah dengan mencari teman orang tua kamu yang pernah studi/bekerja atau yang mengirim anaknya ke Jerman/luar negeri. Kamu bisa ajak mereka membagi pengalaman positif mereka mengenai Jerman/luar negeri dengan orang tua kamu.

2. Buat perhitungan biaya studi dan hidup di Jerman
Posting-posting saya di /category/biaya/ membahas cukup detail mengenai biaya studi dan hidup di Jerman. Dengan informasi ini, kamu bisa menghitung kira-kira biaya studi dan hidup di Jerman secara keseluruhan, yaitu selama kamu studi di sana. Untuk studi S1 kira-kira kamu 1 tahun Studienkolleg dan 4 tahun Bachelor. Untuk studi S2 kamu kira-kira perlu 1 tahun bahasa(untuk mendapat DSH) dan 2 tahun Master. Biaya hidup per bulan kira-kira 500€ (per tahun 6000€ ) dan biaya studi per semester kira-kira 300€ ( per tahun 600€ ). Jumlah biaya hidup dan studi per tahun 6600€. Jadi untuk studi S1 selama 5 tahun, kamu memerlukan kira-kira 33000€ ( Rp 415.000.000,00 ). Untuk studi S2 selama 3 tahun, kamu memerlukan biaya kira-kira 19800€ ( Rp 250.000.000,00). Ini hanya perhitungan kasar, karena semuanya tergantung berapa lama kamu perlu untuk S1/S2. Lalu biaya hidup juga tergantung kamu tinggal di kota mana. Dan juga biaya studi per semester bisa bervariasi dari 80€ – 300€. Yang saya dengar dari beberapa orang, sekarang studi di Indonesia juga sudah sangat mahal, apalagi kalo masuk ke universitas ternama. Jadi kalo kamu bisa membandingkan biaya studi di Indonesia dan di Jerman, mungkin bisa membantu orang tua kamu untuk lebih mengerti.

3. Cari teman atau kenalan di Jerman
Dengan kamu ada teman atau kenalan di Jerman, orang tua biasanya lebih tenang. Apalagi kalo orang tua kamu juga kenal dengan teman kamu yang sudah di Jerman. Kekhawatiran orang tua kamu kalo kamu akan kesulitan di Jerman berkurang, kalo mereka tau ada orang Indonesia lain di Jerman yang kamu kenal. Lebih baik lagi kalo orang tua kamu juga bisa berkenalan dengan orang tua teman kamu.

4. Buat janji dengan orang tua kamu
Kalo orang tua kamu takut kamu tidak pulang atau mendapatkan pasangan orang asing, kamu bisa meyakinkan orang tua kamu dengan membuat janji bahwa kamu akan pulang setelah studi atau setelah bekerja 1-2 tahun di Jerman. Dan kamu juga bisa kasih janji kalo kamu tidak akan mencari pasangan orang asing.

5. Kesempatan bagi orang tua untuk jalan-jalan ke Eropa
Dengan kamu studi di Jerman, ini menjadi kesempatan buat orang tua kamu dan keluarga untuk jalan-jalan ke Eropa. Nanti karena kamu sudah tinggal di sini beberapa lama, jadinya kamu mengenal bahasa, budaya dan infrastruktur di Jerman dan Eropa. Jadi buat orang tua kamu juga akan lebih mudah untuk jalan-jalan ke Jerman dan Eropa. Untuk beberapa minggu, mereka juga biasanya bisa tinggal 1 kamar dengan kamu. Jadi ini juga menghemat biaya ke Eropa. Kalo sudah ke Jerman, kamu dan orang tua kamu bisa sekalian jalan-jalan ke Paris, Roma, Amsterdam, Praha, dan kota-kota besar lainnya Eropa.

6. Kesempatan bagi kamu untuk merantau
Sebagian besar generasi orang tua kita adalah perantau. Mereka merantau dari Sumatera ke Jakarta, dari Jawa Timur ke Jakarta. Sekarang generasi kita, kita merantau dari Indonesia ke Jerman. Kesempatan kamu studi di Jerman bisa menjadi langkah awal untuk bekerja dan berkeluarga di Jerman. Tips yang ini hanya dipakai kalo orang tua kamu tidak ada masalah kamu bekerja dan berkeluarga di luar negeri.

Dari saya, istri saya dan banyak teman saya, kami semua mempunyai pengalaman sangat positif selama studi di Jerman. Banyak dari kami bahkan begitu positifnya dengan studi di Jerman, sehingga memutuskan untuk menetap di Jerman. Kesulitan dan tantangan selalu ada dalam studi, apalagi studinya di luar negeri. Tetapi dari sekian banyak kesulitan dan tantangan yang saya alami dan saya dengar, selalu akhirnya ada jalan keluar. Dengan tidak adanya keluarga di Jerman, bahkan keadaan ini membuat kita jadi bertumbuh lebih dewasa, karena kita harus menghadapi semua kesulitan dan tantangan sendiri dan dalam bahasa asing.  Semoga posting kali ini bisa membantu kamu meyakinkan orang tua kamu untuk rencana studi kamu di Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>